WELCOME TO MY BLOG

HELLO....ALL
I HOPE U'R ALWAYS BE HAPPY :-)

Senin, 17 Agustus 2009

Anxiety

Pengertian Anxiety (Anxiety Bagian 1)

T
akut (fear) dan cemas (anxious) merupakan bagian yang umum dimiliki oleh manusia. Perasaan ini biasanya bersifat sementara. Mereka merupakan sinyal atau tanda adanya suatu bahaya. Namun apabila seseorang mengalami kegelisahan di waktu-waktu yang tidak seharusnya dan tidak dapat mengendalikan apa yang mereka cemaskan maka dapat dikatakan bahwa mereka memiliki anxiety disorder.

I. Pengertian Anxiety
II. Gejala Anxiety
III. Etiologi dan Fisiologi Anxiety
IV. Klasifikasi Anxiety Disorder
V. Pencegahan Anxiety
VI. Terapi Anxiety
VII. Hubungan Anxiety dengan Perawatan Gigi

DAFTAR PUSTAKA

American Psychiatric Association. 2005. Let's Talk Facts About Anxiety Disorder. Arlington: American Psychiatric Association.
Charney, D.; et al. 2002. Neuropsychopharmacology: The Fifth Generation of Progress. Maryland: American College of Neuropsychopharmacology.
Dadds, M.; et al. 2000. Early Intervention for Anxiety Disorders in Children and Adolescents. Canberra: Department of Health and Aged Care.
Dickey, M; dkk. 2002. Anxiety Disorders. Maryland: National Institute of Mental Health.
Golden, L.; et al. 2006. Giving Toys to Children Reduces Their Anxiety About Receiving Premedication for Surgery. Anesth Analg Vol.102: page1070-1072.
Kain, Z.; et al. 1997. The Yale Preoperative Anxiety Scale: How Does It Compare with a “Gold Standard”?. Anesth Analg Vol. 85 page: 783-788.
Kain, Z.; et al. 2006. Preoperative Anxiety, Postoperative Pain, and Behavioral Recovery in Young Children Undergoing Surgery. Pediatrics Vol. 118: page 651-658.
Kiyohara, L.Y.; et al. 2004. Surgery Information Reduces Anxiety In The Pre-Operative Period. Rev. Hosp. Clín. Fac. Med. S. Paulo Vol. 59(2): page 51-56.
Locker, D.; A. Liddell; L. Dempster; and D. Shapiro. 1999. Age of Onset of Dental Anxiet. J Dent Res Vol. 78 (3): page 790-796.
Manyande, A.; et al. 1992. Anxiety and Endocrine Responses to Surgery: Paradoxical Effects of Preoperative Relaxation Training. Psychosomatic Medicine Vol. 54: page 275-287.
National Institute for Clinical Excellence. 2004. Management of panic disorder and generalised anxiety disorder in adults. London: Abba Litho Sales Limited.
Raciene, R. 2004. Dental Fear Among Teenagers. Individual Anxiety Factors. Stomatologija, Baltic Dental and Maxillofacial Journal Vol. 6: page 118-121.
Sohn, W. and A.I. Ismail 2005. Regular Dental Visits and dental Anxiety in an Adult Dentate Population. JADA Vol. 136: page 58-66.
Vingerhoets, G. 1998. Open-Heart Surgery: Anxiety and Depression. Psychosomatics Vol. 39: page 30–37.

I. Pengertian Anxiety

Anxiety merupakan suatu perasaan yang tidak tenang, cemas, atau takut dan dapat bersifat ringan sampai parah. Kondisi ini dapat muncul tanpa sebab yang jelas. Anxiety merupakan suatu tingkatan emosional dengan karakteristik adanya perubahan pada tubuh, pikiran, dan tingkah laku seseorang.

Kondisi ini mempunyai batas pada suatu tingkat tertentu. Begitu tingkat anxiety mencapai batas tersebut, maka dia akan berhenti untuk sementara lalu menurun (Dadds et al., 2000; National Institute for Clinical Excellence, 2004).

Semua orang dapat mengalami anxiety, namun apabila orang tersebut mengalaminya pada waktu yang tidak seharusnya dan merasa kesulitan untuk mengendalikan kondisi anxiety yang dialaminya maka orang tersebut dikatakan menderita kelainan anxiety (National Institute for Clinical Excellence, 2004).

Anxiety mencakup tiga komponen (Dadds et al., 2000):
1. Perubahan fisik.
Perubahan fisik ini dapat bermacam-macam. Namun, yang paling umum dialami adalah nafas yang pendek, pusing, jantung yang berdebar-debar, tubuh yang gemetar, ketegangan otot, berkeringat, rasa baal, tingling sensation, mulut kering, rasa tidak nyaman pada perut, dan mual.

2. Pikiran.
Jenis anxiety yang berbeda dihubungkan dengan pikiran yang berbeda. Pikiran tersebut misalnya berupa rasa takut diperhatikan orang banyak ataupun merasa mengalami serangan jantung. Pada intinya penderita merasa berada dalam kondisi yang berbahaya.

3. Perilaku.
Reaksi yang paling umum yang ditunjukkan oleh penderita anxiety adalah sikap menghindar. Misalnya apabila seseorang takut berada di kerumunan orang banyak maka orang tersebut akan menghindari tempat-tempat keramaian.


II. Gejala Anxiety

Bentuk dan gejala dari anxiety disorder diantaranya (American Psychiatric Association, 2005):
Perasaan panik dan takut yang berlebihan.
Gangguan pikiran yang tidak terkendali.
Terganggu oleh memori atau kenangan yang menyakitkan.
Mimpi buruk yang terus berulang.
Gejala fisik seperti mual, berkeringat, rasa menggelitik di dalam perut, jantung berdebar, mudah terkejut, ketegangan otot, sakit kepala, sulit berbicara, sulit menelan

Sedangkan pada anak-anak dan remaja yang anxious dapat mengalami simtom-simtom berikut (Dadds et al., 2000):
Tidak realistis, dan gelisah yang berlebihan.
Kebutuhan yang terus-menerus akan penenang.
Terlalu khawatir akan kejadian yang sudah maupun yang akan terjadi.
Terlalu khawatir dengan segala perbuatannya.
Keluhan tanpa penyebab yang jelas.
Kurang istirahat.
Lelah.
Sulit berkonsentrasi.
Mudah tersinggung.
Sulit berpisah dengan orang tua.
Tidak suka dengan sekolah.
Serangan panik.
Menghindar terhadap suatu situasi.
Sulit berada di lingkungan sosial.
Phobia.
Gangguan pikiran atau tekanan.

III. Etiologi dan Fisiologi Anxiety

Sampai saat ini, etiologi dari anxiety disorder masih belum diketahui. Ada berbagai pendapat yang menjelaskan bagaimana suatu reaksi anxiety terjadi.

Beberapa peneliti memusatkan perhatiannya ke amygdala yang diyakini berperan sebagai pusat komunikasi antar bagian-bagian di otak yang memproses sinyal sensor yang datang dan bagian lain yang menginterpretasikannya. Amygdala dapat memberi sinyal bahwa ada suatu ancaman atau bahaya, dan memicu timbulnya respon takut atau gelisah (Dickey, 2002; American Psychiatric Association, 2005).

Sedangkan penelitian lain memfokuskan diri kepada hippocampus yaitu suatu struktur dari otak yang bertanggung jawab untuk memproses stimulus ancaman ataupun traumatik. Hippocampus berperan penting di otak untuk membantu mengubah informasi menjadi memori. Bagian lain yaitu ganglia basal dan striatum berperan untuk anxierty tipe obsessive-compulsive disorder (Dickey, 2002).

Beberapa ahli juga menyatakan bahwa gen juga memiliki peran dalam kelaianan anxiety. Hal inilah yang dapat menjelaskan kenapa seseorang setelah mendapat trauma ataupun stimulus tertentu dapat menderita PTSD, sedangkan orang lain menderita PTSD dengan stimulus yang berbeda, serta juga menjelaskan kenapa anxiety disorder dapat diturunkan ke keluarga. Sekarang masih diteliti bagaimana pengalaman dan gen berinteraksi sehingga dapat menimbulkan kelainan anxiety (Dickey, 2002; American Psychiatric Association, 2005).


IV. Klasifikasi Anxiety Disorder

Anxiety yang merupakan manifestasi dari tingkah laku diklasifikasikan menjadi dua kategori: state dan trait anxiety. State anxiety merupakan episode anxiety akut yang dipengaruhi oleh kondisi atau situasi saat itu dan tidak bersifat menetap. Sedangkan trait anxiety merupakan pola anxiety yang dianggap karakter atau pembawaan pribadi seseorang (Kiyohara et al., 2004).

Jenis-jenis anxiety disorder diantaranya: panic disorder, obsessive-compulsive disorder, post-traumatic stress disorder, phobia, generalized anxiety disorder (Dickey et al., 2002).

1. Panic disorder.

Gejala inti dari panic disorder adalah panic attack. Orang dengan panic attck memiliki perasaan adanya teror yang menyerang secara tiba-tiba dan berulang tanpa adanya peringatan sebelumnya. Mereka tidak dapat memprediksi kapan suatu serangan akan terjadi. Dan beberapa orang mengalami anxiety yang hebat diantara tiap episodenya.

Mereka juga mencemaskan kapan dan dimana serangan berikutnya akan terjadi. Terkadang mereka dapat menderita agarophobia sehingga berusaha menghindari tempat-tempat umum (Dickey et al., 2002; National Institute for Clinical Excellence, 2004).

Ketika terjadi panic attack, beberapa gejala di bawah ini dapat muncul (American Psychiatric Association, 2005):
Jantung berdebar dan sakit pada dada.
Berkeringat, gemetar.
Nafas pendek dan muncul sensasi seperti tercekik.
Mual ataupun rasa sakit pada perut.
Kepala terasa pusing.
Berkhayal dan diskoneksi dengan orang-orang disekitarnya.
Merasa takut kehilangan kontrol, “menjadi gila”, atau merasa sekarat.
Mati rasa.
Merasa kedinginan atau kepanasan.

Karena gejalanya yang parah, terkadang penderita panic disorder mengira bahwa diri mereka menderita serangan jantung ataupun penyakit lain yang mengancam jiwa (National Institute for Clinical Excellence, 2004; American Psychiatric Association, 2005).

2. Obsessive-compulsive disorder (OCD).

Obesesi merupakan pikiran yang mengganggu dan irasional yang selalu muncul kembali. Obsessive-compulsive disorder merupakan kelainan dimana seseorang memiliki ritual-ritual yang tidak bisa dia kontrol karena dia dihantui oleh pikiran-pikiran tertentu.

Contohnya adalah orang-orang yang sangat takut dan tidak ingin adanya kuman sehingga dia harus selalu melakukan prosedur yang terlalu berlebihan dengan urutan tertentu. Kelainan ini bisa sangat mengganggu kegiatan sehari-hari dan hubungan sosialnya (American Psychiatric Association, 2005; Dickey et al., 2002).

3. Post-traumatic stress disorder (PTSD).

Post-traumatic stress disorder merupakan kondisi yang melemahkan seseorang yang berkembang akibat suatu kejadian yang menakutkan. Kondisi ini dapat muncul pada orang-orang yang berhasil selamat dari peristiwa fisik ataupun emosional yang sangat menakutkan.

Orang yang mengalaim PTSD biasanya mengalami mimpi buruk yang terus berulang, kenangan yang terus terbayang dan sangat menganggu, atau bahkan merasa kejadian buruk yang dia alami akan terulang kembali apabila dia berada pada situasi tertentu (American Psychiatric Association, 2005; Dickey et al., 2002).

Orang dengan PTSD dapat mengalami gejala seperti (American Psychiatric Association, 2005):
Mati rasa.
Gangguan tidur.
Merasa diawasi oleh seseorang.
Mudah marah.

Kejadian yang dapat memicu PTSD contohnya adalah peperangan, serangan kekerasan personal, bencana alam, tragedi (misalnya pesawat jatuh), kekerasan fisik atau seksual ketika anak-anak, ataupun menyaksikan orang lain dalam suatu kecelakaan yang parah (American Psychiatric Association, 2005).

4. Phobia.
Phobia merupakan rasa takut yang berlebihan dan persisten terhadap objek, situasi, ataupun akitivitas tertentu. Rasa takut ini membuat penderitanya menghindari hal yang mereka takuti dengan sikap yang berlebihan.

Seseorang didiagnosis menderita phobia apabila rasa takut mereka sangat mengganggu hidup dan aktivitas mereka sehari-hari. Phobia dibagi menjadi tiga: social phobia, specific phobia, dan agoraphobia (American Psychiatric Association, 2005)

Social phobia.

Social phobia atau social anxiety disorder merupakan suatu rasa takut atau kegelisahan yang berlebihan apabila seseorang berada di lingkungan sosial. Mereka takut merasa malu ataupun takut apabila dipehatikan oleh orang banyak. Misalnya berbicara di depan umum. (Dickey et al., 2002; American Psychiatric Association, 2005).

Spesific phobia.

Spesific phobia merupakan rasa takut yang berlebihan terhadap suatu hal yang sedikit atau bahkan tidak berbahaya sama sekali. Penderita biasanya sadar bahwa rasa takut mereka terlalu berlebihan, namun mereka tidak sanggup untuk mengatasi rasa takut tersebut. Misalnya takut naik pesawat, atau takut terhadap hewan tertentu (Dickey et al., 2002; American Psychiatric Association, 2005).

Agoraphobia

Agoraphobia merupakan rasa takut apabila berada di suatu tempat dimana penderita merasa tidak ada jalan keluar atau pertolongan orang lain. Apabila kondisi ini tidak ditangani, maka kondisi akan bertambah serius bahkan membuat penderitanya takut untuk keluar rumah dan selalu berusaha menghindari tempat-tempat umum (National Institute for Clinical Excellence, 2004; American Psychiatric Association, 2005).

5. Generalized anxiety disorder (GAD).

Generalized anxiety disorder merupakan suatu anxiety yang berlebihan, tidak masuk akal, dan dialami dari hari ke hari. Orang dengan GAD mengalami ketegangan yang parah dan terus menerus yang sangat menganggu aktivitasnya sehari-hari.

Mereka terus-menerus merasa cemas dan tidak sanggup untuk mengendalikan rasa cemasnya ini. Mereka mungkin dapat mengalami gangguan tidur, ketegangan atau sakit pada otot, gemetar, merasa lemah ataupun sakit kepala, tidak dapat bersikap tenang, cemas dan mudah marah, sulit konsentrasi, dan mempunyai masalah tidur (Dickey et al., 2002; National Institute for Clinical Excellence, 2004).

Tidak ada komentar: